
(source : Happy Go Lucky Expedition)
Tidak banyak orang yang berani menempuh jarak puluhan ribu kilometer melintasi berbagai benua hanya dengan mengandalkan mobil pribadi. Namun bagi Hartawan “Hauwke” Setjodiningrat, petualangan lintas dunia bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan bentuk ekspresi cinta terhadap Indonesia dan dunia otomotif klasik.
Pria kelahiran 1955 ini dikenal luas sebagai pengusaha komponen otomotif sekaligus kolektor mobil klasik. Di bawah naungan Hauwke Auto Gallery di Jakarta, ia telah merestorasi berbagai mobil bersejarah dari sedan Amerika 1950-an hingga kendaraan klasik Eropa yang kini jarang ditemui. Namun, semangatnya tidak berhenti di bengkel. Ia ingin agar roda-roda tuanya berputar lebih jauh menjelajahi dunia.
Pada tahun 2014, Hauwke bersama tim kecilnya memulai sebuah ekspedisi ambisius bertajuk Happy Go Lucky Expedition. Mengendarai Toyota Land Cruiser VX lansiran 1995, mereka berangkat dari Indonesia dengan tujuan menaklukkan jalan darat lintas benua.
Selama hampir satu dekade, ia menempuh perjalanan sejauh lebih dari 60.000 kilometer, melewati lebih dari 60 negara di Asia, Eropa, hingga Afrika. Rutenya melintasi Perancis, Spanyol, Portugal, Maroko, bahkan mencapai Nordkapp, Norwegia, titik paling utara yang bisa dijangkau kendaraan darat di Eropa.
Mengapa Land Cruiser lawas? Hauwke punya alasan kuat. “Mobil ini sederhana, tangguh, dan populasinya ada di hampir semua negara. Jadi kalau rusak, spare part-nya mudah dicari,” katanya sambil tersenyum.
Keputusan itu terbukti tepat. Mobil yang berusia hampir tiga dekade tersebut melewati berbagai medan ekstrem gurun pasir di Maroko, salju di Skandinavia, hingga jalan sempit berbatu di kawasan Balkan.
Namun perjalanan tidak selalu mulus. Di beberapa negara, Hauwke harus memutar arah karena kondisi politik yang tidak stabil. Sudan, misalnya, terpaksa ia hindari karena situasi keamanan yang memburuk. Meski demikian, semangatnya tidak pernah padam.
Lebih dari sekadar petualangan, ekspedisi ini membawa misi kebangsaan. Setiap kali singgah di sebuah kota, Hauwke memperkenalkan budaya Indonesia kepada warga lokal mulai dari batik, kopi, hingga cerita tentang keberagaman nusantara.
Ia juga membawa bendera Merah Putih di setiap mobil yang melintas batas negara. Foto-foto perjalanan yang dibagikan di media sosialnya menampilkan panorama menakjubkan bendera Indonesia berkibar di padang gurun Sahara, di salju Norwegia, hingga di tepi Laut Mediterania.
Hingga kini, Hauwke masih melanjutkan misinya. Ia menargetkan bisa mengunjungi 200 negara sebelum pensiun dari jalanan dunia. Total biaya ekspedisi yang telah dikeluarkan diperkirakan mencapai lebih dari Rp 1,5 miliar, sebagian besar dari kantong pribadi.
Namun bagi Hauwke, nilai sesungguhnya tidak bisa dihitung dengan uang.
“Yang saya cari bukan rekor, tapi pengalaman. Dunia ini indah, dan kita harus menjelajahinya dengan rasa ingin tahu, bukan dengan rasa takut,” katanya dalam satu unggahan dokumenternya.
Perjalanan Hauwke Setjodiningrat bukan hanya kisah seorang pria dan mobil tuanya, tetapi juga tentang keberanian menembus batas geografis, mental, dan budaya. Di setiap kilometer yang ia lalui, ia membawa pesan sederhana bahwa semangat dan rasa cinta tanah air bisa berputar sejauh roda yang kita percayai.









