
Produsen kendaraan listrik asal Tiongkok, BYD Company, dilaporkan tengah menjajaki kemungkinan untuk memasuki dunia balap paling prestisius, Formula 1. Langkah ini disebut sebagai bagian dari strategi besar perusahaan untuk memperkuat citra global serta menunjukkan kapabilitas teknologi listrik dan hibrida yang mereka kembangkan selama satu dekade terakhir.
Ambisi tersebut muncul seiring perubahan besar regulasi F1 yang akan berlaku pada musim 2026. Aturan baru ini akan meningkatkan porsi elektrifikasi dalam unit tenaga hibrida, menjadikannya lebih relevan dengan teknologi kendaraan listrik modern bidang yang menjadi kekuatan utama BYD.
Menurut berbagai laporan industri motorsport, BYD sedang mempertimbangkan beberapa opsi untuk masuk ke F1. Salah satunya adalah mendaftar sebagai tim ke-12 di grid, sementara opsi lain yang tidak kalah menarik adalah mengakuisisi tim yang sudah ada.
Salah satu tim yang disebut-sebut dalam spekulasi tersebut adalah Alpine F1 Team. Meski belum ada konfirmasi resmi, potensi akuisisi ini dianggap sebagai jalan tercepat bagi BYD untuk mendapatkan infrastruktur, fasilitas, serta pengalaman kompetisi yang sudah mapan di Formula 1. Jika langkah ini benar-benar terjadi, BYD berpotensi menjadi produsen otomotif Tiongkok pertama yang memiliki kehadiran besar di Formula 1.
Masuknya BYD ke F1 juga diperkirakan akan membawa teknologi dari sub-brand premiumnya, Yangwang. Divisi ini dikenal mengembangkan kendaraan listrik berperforma tinggi, termasuk hypercar Yangwang U9.
U9 sendiri mengusung platform e⁴ (electric four-motor system) yang mampu mengontrol setiap roda secara independen. Teknologi ini tidak hanya memberikan performa ekstrem, tetapi juga stabilitas dan kontrol yang sangat presisi karakteristik yang sangat penting dalam dunia motorsport.
Beberapa pengamat menilai pengalaman BYD dalam teknologi baterai Blade Battery serta sistem motor listrik berperforma tinggi bisa memberikan perspektif baru dalam pengembangan powertrain masa depan F1.
Selain Formula 1, BYD juga disebut mempertimbangkan partisipasi di ajang balap ketahanan dunia, yaitu FIA World Endurance Championship. Kompetisi ini dikenal sebagai panggung bagi produsen besar untuk menguji teknologi efisiensi energi dan performa kendaraan dalam kondisi ekstrem, termasuk balapan legendaris seperti 24 Hours of Le Mans.
Langkah ini akan menempatkan BYD di jalur yang sama dengan produsen besar seperti Toyota, Porsche, Ferrari, dan Peugeot yang saat ini aktif di kategori Hypercar.
Presiden Fédération Internationale de l’Automobile (FIA), Mohammed Ben Sulayem, sebelumnya menyatakan bahwa kehadiran produsen otomotif dari Tiongkok di Formula 1 merupakan langkah logis berikutnya bagi perkembangan olahraga tersebut. Dengan pasar otomotif Tiongkok yang sangat besar dan pertumbuhan teknologi kendaraan listrik yang pesat, keterlibatan BYD dinilai dapat memperluas jangkauan global Formula 1 sekaligus membuka era baru dalam persaingan teknologi.
Walaupun hingga kini belum ada pengumuman resmi dari BYD, spekulasi ini menunjukkan betapa seriusnya ambisi produsen kendaraan listrik tersebut untuk memasuki panggung motorsport dunia. Jika rencana ini terwujud, Formula 1 tidak hanya akan mendapatkan tim baru, tetapi juga pemain teknologi besar yang dapat mengubah peta persaingan di era elektrifikasi.









