
Pereli motor andalan Indonesia, Irma Ferdiana, kembali mengusung target besar pada ajang Asia Cross Country Rally (AXCR) 2026. Tampil sebagai juara bertahan kelas wanita, Irma siap kembali mengibarkan Merah Putih bersama Tim Indonesia Pertamina dalam reli lintas alam paling bergengsi di Asia tersebut.
Komitmen itu disampaikan Irma saat menghadiri konferensi pers di Kafe Cikini 73, Jakarta, yang juga dihadiri keluarga besar Indonesia Off-road Expedition (IOX). Dalam kesempatan tersebut, ia membagikan perjalanan kariernya hingga persiapan menghadapi AXCR 2026 yang akan berlangsung di Thailand.
Meski telah mengoleksi tiga gelar juara di kelas wanita, Irma menegaskan bahwa target utamanya bukan semata mempertahankan gelar, melainkan menyelesaikan seluruh etape dengan baik.
“Kalau target pasti ingin mempertahankan juara. Tapi yang paling penting adalah finish dulu. Rally itu tidak bisa hanya mengandalkan fisik atau motor yang bagus. Ada faktor skill, navigasi, persiapan, bahkan keberuntungan,” ujar Irma.
Sebelum dikenal sebagai salah satu pembalap rally terbaik Indonesia, Irma memiliki latar belakang sebagai atlet voli. Setelah pensiun dari dunia olahraga prestasi, ia memilih meniti karier sebagai guru olahraga sekaligus melanjutkan pendidikan hingga jenjang (S3) di bidang Pendidikan Olahraga.
Namun jiwa petualang dan semangat kompetisi tidak pernah hilang. Aktivitas trail dan off-road yang awalnya hanya menjadi hobi akhir pekan justru membuka jalan menuju dunia motorsport.
Tahun 2017 menjadi awal kiprahnya di dunia adventure ketika mengikuti Indonesia Off-road Expedition (IOX). Selama 15 hari menjelajahi medan berat di hutan, Irma menjadi satu-satunya peserta perempuan.
Pengalaman itu menjadi modal penting ketika setahun kemudian AXCR membuka kategori khusus wanita untuk pertama kalinya.
Pada AXCR 2018, Irma dipercaya memperkuat Indonesia di kelas wanita atas keputusan manajer tim yang akrab disapa Bang Poa. Meski berstatus debutan dan tanpa target tinggi, hasil yang diraih justru melampaui ekspektasi.
Berkat persiapan matang, termasuk pemusatan latihan selama satu pekan di Bali, Irma sukses merebut gelar juara pada penampilan pertamanya di ajang tersebut.
“Awalnya tidak pernah berpikir langsung juara. Targetnya hanya menyelesaikan balapan. Alhamdulillah hasilnya di luar dugaan,” kenangnya.
Menurut Irma, Asia Cross Country Rally bukan sekadar adu cepat, melainkan kompetisi yang menguji seluruh aspek kemampuan seorang pembalap. Peserta harus menghadapi lintasan yang tidak dikenal, membaca roadbook secara mandiri, mengatur konsumsi bahan bakar, hingga mengambil keputusan dalam waktu singkat ketika menghadapi persimpangan atau tersesat.
“Kalau salah jalur beberapa meter saja bisa kehilangan waktu yang sangat banyak. Jadi keseimbangan antara kecepatan dan navigasi jauh lebih penting daripada sekadar gas penuh,” jelasnya.
Sebagai pembalap motor, tantangan yang dihadapi bahkan lebih kompleks. Tidak seperti peserta mobil yang dibantu navigator, seluruh navigasi dilakukan sendiri sambil mengendarai motor. Malam sebelum balapan dimanfaatkan Irma untuk mempelajari roadbook, menandai titik penting, hingga menghitung kebutuhan bahan bakar selama Special Stage (SS).
Mental menjadi salah satu senjata utama Irma selama bertarung di AXCR. Ia mengaku selalu memasang bendera Indonesia di setang motornya sebagai pengingat bahwa dirinya sedang membawa nama bangsa.
“Kalau mulai lelah atau merasa ingin menyerah, saya lihat bendera Merah Putih di motor. Langsung ingat kalau saya sedang mewakili Indonesia.”
Semangat kebersamaan antar pembalap Indonesia juga menjadi motivasi tersendiri. Menurutnya, meski berada di lintasan yang sama sebagai kompetitor, para pembalap tetap saling membantu ketika menghadapi kesulitan.
Irma bahkan pernah menghentikan motornya untuk membantu sesama pembalap Indonesia yang mengalami kesulitan melewati lintasan lumpur.
“Balapan tetap balapan, tapi rasa kemanusiaan dan solidaritas sesama tim Indonesia jauh lebih penting.”
Dalam persaingan internasional, Irma menyebut Jepang dan Thailand sebagai lawan yang paling diwaspadai. Jepang memiliki pengalaman panjang di dunia rally dan kemampuan navigasi yang sangat baik. Sementara pembalap Thailand memiliki keuntungan mengenal karakter lintasan sekaligus bahasa lokal.
“Pembalap Jepang sangat kuat dalam membaca roadbook, sedangkan Thailand diuntungkan karena mereka sangat mengenal medannya.”
Irma mengungkapkan bahwa penyelenggara telah memberikan gambaran mengenai karakter lintasan AXCR 2026. Meski Special Stage akan lebih pendek dibanding edisi sebelumnya, tantangan teknis justru diperkirakan semakin berat dengan hadirnya trek berbatu dan jalur yang lebih rumit. Karena itu, ia memilih strategi yang lebih konservatif dengan mengutamakan akurasi navigasi dibanding mengejar kecepatan semata.
“Kalau jalurnya lurus tentu bisa lebih cepat. Tapi kalau sudah banyak persimpangan, lebih baik sedikit lebih pelan daripada harus salah arah dan kehilangan waktu.”
Menghadapi AXCR 2026, Tim Indonesia mendapat dukungan penuh dari Pertamina sebagai sponsor utama. Dukungan tersebut dinilai menjadi suntikan motivasi bagi seluruh tim untuk kembali membawa pulang prestasi membanggakan.
Dengan bekal pengalaman, empat gelar juara, serta persiapan yang semakin matang, Irma Ferdiana optimistis mampu kembali bersaing di level tertinggi Asia. Namun, baginya kemenangan sejati bukan hanya berdiri di podium, melainkan berhasil menuntaskan setiap etape sambil membawa nama Indonesia dengan penuh kebanggaan.
“Persiapan kami sudah maksimal. Sekarang tinggal berusaha sebaik mungkin dan semoga keberuntungan tetap berpihak kepada Indonesia,” tutup Irma.
