
Di hamparan jalan raya lurus tanpa ujung di gurun Arab Saudi, suara ban berdecit keras membelah malam. Asap putih mengepul, mobil melintir liar dalam kecepatan tinggi, sementara ratusan penonton berdiri hanya beberapa meter dari lintasan. Fenomena ini dikenal sebagai Hajwalah, atau yang lebih populer dengan sebutan Tafheet (تَفْحِيط) sebuah subkultur otomotif ekstrem yang pernah menjadi simbol adrenalin sekaligus kontroversi di kawasan Teluk.
Hajwalah diyakini mulai tumbuh pada akhir 1970-an di Arab Saudi, terutama di sekitar Riyadh dan wilayah Al-Qassim. Saat itu, pembangunan infrastruktur jalan raya berkembang pesat. Jalan-jalan baru yang panjang, lurus, dan relatif sepi menciptakan “arena” alami bagi para pengemudi muda untuk menguji batas kendaraan mereka.
Kombinasi antara meningkatnya daya beli masyarakat berkat ledakan ekonomi minyak dan minimnya fasilitas hiburan publik bagi anak muda, menjadi pemicu utama. Mobil bukan lagi sekadar alat transportasi, tetapi medium ekspresi. Hajwalah pun menjelma sebagai pelampiasan rasa bosan, bentuk pemberontakan sosial, sekaligus ajang pembuktian keberanian.
Berbeda dengan drifting profesional di sirkuit tertutup, Hajwalah adalah pertunjukan freestyle tanpa regulasi. Mobil dipacu hingga 160–260 km/jam di jalan raya umum, lalu dikendalikan secara zigzag ekstrem hingga melintir nyaris tak terkendali.
Kendaraan yang digunakan sering kali bukan mobil sport mahal, melainkan sedan keluarga standar seperti Toyota Camry atau Corolla, bahkan SUV seperti Land Cruiser. Justru kesan “mobil biasa” itulah yang mempertegas daya tariknya siapa pun bisa melakukannya setidaknya secara teori.
Salah satu aksi paling ekstrem di bawah payung Hajwalah adalah sidewall skiing, yakni mengendarai SUV hanya dengan dua roda, miring di sisi bodi kendaraan dalam kecepatan tinggi. Aksi ini menuntut presisi dan keberanian, tetapi kesalahan kecil bisa berujung fatal. Yang membuatnya semakin berbahaya adalah posisi penonton. Mereka berdiri sangat dekat dengan jalur lintasan tanpa pengaman. Tidak jarang mobil kehilangan kendali dan menghantam kerumunan.
Pada awal 2000-an, Hajwalah mencapai puncak popularitasnya. Namun di saat yang sama, angka kecelakaan meningkat drastis. Banyak insiden berujung pada kematian pengemudi maupun penonton. Video kecelakaan yang beredar memperlihatkan betapa tipis batas antara atraksi dan tragedi.
Otoritas Arab Saudi merespons dengan tindakan tegas. Hajwalah dinyatakan ilegal. Sanksinya tidak main-main:
- Penyitaan kendaraan hingga 15 hari atau lebih
- Denda besar, bisa mencapai SAR 20.000 atau lebih
- Ancaman hukuman penjara
Penindakan dilakukan secara masif, termasuk patroli khusus dan razia kendaraan yang dicurigai akan digunakan untuk Tafheet.
Ironisnya, di tengah pelarangan, video Hajwalah justru menyebar luas melalui YouTube, Instagram, dan platform media sosial lainnya. Klip-klip aksi drifting liar dengan musik keras menjadi tontonan viral, menarik perhatian penonton global.
Fenomena ini memperluas pengaruh Hajwalah melampaui Arab Saudi. Istilah “Arab drifting” mulai dikenal di berbagai negara. Sebagian menganggapnya seni mengemudi ekstrem, sebagian lagi melihatnya sebagai simbol ketidakdisiplinan lalu lintas yang mematikan.
Dalam beberapa tahun terakhir, perubahan sosial dan kebijakan modernisasi di Arab Saudi membuka ruang baru bagi dunia otomotif. Pemerintah mulai mendorong olahraga balap resmi dan event motorsport terorganisir.
Banyak mantan pelaku Tafheet kini beralih ke drifting profesional di sirkuit tertutup. Mereka menyalurkan kemampuan mengendalikan mobil dalam arena yang lebih aman dan legal. Transformasi ini menjadi langkah penting dari aksi liar di jalan umum menuju kompetisi dengan standar keselamatan yang jelas. Event drifting resmi, track day, hingga festival otomotif kini menjadi alternatif yang lebih aman bagi generasi muda untuk mengekspresikan minat mereka terhadap kecepatan dan teknik mengemudi.
Hajwalah tetap menjadi salah satu ekspresi paling mencolok dalam sejarah budaya otomotif modern di wilayah Teluk. Ia mencerminkan dinamika sosial antara kebebasan dan aturan, antara ekspresi diri dan risiko publik. Di satu sisi, Hajwalah adalah simbol kreativitas dan keberanian generasi muda. Di sisi lain, ia menjadi pengingat keras tentang konsekuensi ketika adrenalin melampaui batas keselamatan.
