Kei Car Langka Dari Jepang dengan Nama Paling Kontroversial


Kendaraan yang satu ini mempunyai nama unik yang justru mencuri perhatian karena ukurannya yang mungil namun kemampuannya tak bisa diremehkan Mazda Laputa. Lahir dari kolaborasi industri otomotif Jepang dan berbasis pada Suzuki Kei, mobil ini menjadi bukti bahwa dimensi kecil bukan halangan untuk menghadirkan karakter tangguh. 

Diproduksi pada periode 1999 hingga 2006, Mazda Laputa hadir sebagai kei car dengan sentuhan berbeda lebih berani, lebih fleksibel, dan tentu saja, lebih unik dibanding kebanyakan mobil sekelasnya.

Sekilas, Mazda Laputa tampil seperti hatchback biasa. Namun, proporsi bodinya yang mengotak dengan ground clearance lebih tinggi memberikan kesan layaknya mini crossover. Dengan panjang hanya sekitar 3,3 meter, mobil ini sangat ideal untuk menghadapi jalanan kota yang padat dan ruang parkir yang terbatas. Tapi jangan salah posturnya yang sedikit tinggi juga membuatnya lebih siap menghadapi jalan rusak atau genangan air yang kerap jadi musuh mobil kecil.

Di balik kap mesinnya, Mazda Laputa mengusung mesin 658 cc 3-silinder formula khas kei car Jepang yang mengutamakan efisiensi. Namun, pada varian turbo, karakter mobil ini berubah cukup signifikan.

Tenaga sekitar 60 hp dan torsi 83 Nm mungkin terdengar kecil di atas kertas, tapi dengan bobot kendaraan yang ringan, performanya terasa cukup responsif untuk penggunaan harian. Transmisi manual dan otomatis juga tersedia, memberikan fleksibilitas bagi berbagai tipe pengemudi.

Inilah yang membuat Mazda Laputa berbeda. Sistem penggerak 4WD yang disematkan bukan sekadar gimmick, melainkan solusi nyata untuk meningkatkan traksi. Di jalan basah, licin, atau bahkan berbatu ringan, Laputa mampu menjaga stabilitas lebih baik dibandingkan versi FWD. Memang bukan untuk off-road ekstrem, tapi cukup untuk kebutuhan eksplorasi ringan sesuatu yang jarang dimiliki mobil sekecil ini.

Mazda Laputa 4×4 adalah definisi kendaraan multifungsi dalam ukuran mini. Ia nyaman digunakan sebagai daily car di perkotaan, namun tetap bisa diandalkan saat harus keluar dari “zona nyaman” menuju daerah dengan kondisi jalan yang lebih menantang. Efisiensi bahan bakarnya juga menjadi keunggulan utama, menjadikannya pilihan ekonomis tanpa mengorbankan kapabilitas.

Nama “Laputa” diambil dari pulau terbang dalam novel klasik Gulliver’s Travels karya Jonathan Swift. Namun di balik referensi sastra tersebut, tersimpan cerita menarik karena dalam bahasa Spanyol, nama tersebut memiliki arti yang kurang pantas. Hal ini menjadikan Mazda Laputa salah satu contoh paling ikonik dari “miskomunikasi global” dalam penamaan produk otomotif.

Di pasar Indonesia, Mazda Laputa bisa dibilang barang langka. Statusnya sebagai mobil CBU dari Jepang membuat populasinya sangat terbatas. Justru karena kelangkaan inilah, Laputa memiliki daya tarik tersendiri di kalangan pecinta mobil unik dan kolektor.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *